TUGAS MANDIRI 1.4.a.9

 TUGAS MANDIRI 1.4.a.9

Kesimpulan mengenai mengenai peran saya dalam menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan konsep-konsep inti seperti disiplin positif, motivasi perilaku manusia, posisi kontrol restitusi, keyakinan kelas, restitusi, segitiga restitusi dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya yaitu Filosofi Pendidikan Nasional KHD, Nilai dan Peran Guru Penggerak, dan Visi Guru Penggerak.

Sebelum kita menjadi pendidik, kita sudah merasakan bagaimana menduduki bangku sekolah dan menjadi murid pada kisaran 40 atau 50 tahun yang lalu.  Bayangkan pengalaman yang kita  alami ketika Sekolah Dasar, Menengah Pertama dan Menengah Atas. Rasakan lagi ingatan perasaan ketika menjadi murid dulu. Mengapa hal ini penting? Terkadang sebagai pendidik kita seringkali bisa menilai kualitas pendidikan dari sudut pandang orang dewasa, sehingga penting bagi kita melakukan refleksi pengalaman masa lalu ketika menjadi murid untuk melihat lebih dekat sudut pandang murid sebagai subjek  pendidikan.  Kita  dapat  memulai  refleksi  dengan bercerita pengalaman masa lalu sebagai murid dengan mengingat budaya  interaksi  kita sebagai  murid dengan guru ketika sekolah dulu, bagaimana budaya sekolah  mempengaruhi karakter kita.

 

Pada modul  sebelumnya kita belajar tentang filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki  lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak” Dari filosofi pendidikan tersebut sebagai guru penggerak mari kita refleksikan bersama dari pengalaman belajar di masa lalu dengan filosofi pendidikan sebagai pamong yang menuntun tumbuh dan kodrat anak .

Ki Hajar dewantara berpendapat bahwa, pendidikan adalah pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam dan zaman atau masyarakat. KHD memberikan perbedaan antara pembelajaran dan pengajaran. Beliau menerangkan bahwa pendidikan adalah tuntutan bagi seluruh kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Sedang Pengajaran adalah Pendidikan dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan agar bermanfaat bagi kehidupan lahir dan batin.

Sekolah perlu mengembangkan budaya positif karena ha ini dapat menjadi tolak ukur mutu di sekolah tersebut. Menurut Nyoman S.D (2021) Budaya positif sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan symbol-simbol yang dipraktekkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa dan masyarakat sekitar sekolah.

Tujuan dari visi sekolah pastilah menginginkan murid yang merdeka. Murid yang memiliki karakter sesuai profil pelajar pancasila. Murid merdeka bermakna murid memiliki kebebasan untuk melakukan inovasi, belajar dengan mandiri dan kreatif secara menyenangkan dan tanpa paksaan. Guna mencapai visi murid merdeka, Ki Hajar Dewantara mengungkapkan bahwa sekolah mengupayakan metode pendidikan yang relevan dengan kodrat zaman (perkembangan zaman) tanpa meninggalkan kodrat alam (budaya) tempat anak hidup dan tumbuh. Kedua kodrat keadaan tersebut tidak mungkin dapat diubah, yang dapat diubah hanyalah budhi yang meliputi cipta, rasa, dan karsa (batin) dan pekertinya, yang meliputi raga, tenaga, upaya, dan tindakan (lahir). Tugas pendidik menuntun secara relevan dan kontekstual mewujudkan murid merdeka sesuai kodratnya sendiri.

Menuju visi sekolah impian memang bukanlah persoalan yang mudah. Kolaborasi dari seluruh pemangku kepentingan sangatlah dibutuhkan untuk mencapai visi bersama. Setiap komponen wajib memahami perannya dan bertanggung jawab dengan tugasnya. Untuk itu diperlukan metode BAGJA sebagai langkah-langkah pendekatan inkuiri apresiatif di sekolah. Inti dari pendekatan inkuiri apresiatif adalah nilai positif yang telah ada dan dikembangkan secara kolaboratif. Alur Bagja sendiri diawali dengan Buat pertanyaan, ambil tindakan, gali impian, jabarkan rencana, dan atur eksekusi. Berpijak dari hal positif yang ada di sekolah, sekolah kemudian menyelaraskan kekuatan tersebut

Selaku  pendidik,  mengembangkan  budaya positif di  sekolah menjadi  hal yang sangat penting, dimulai dari membekali diri dengan melatih komunikasi. Pertanyaannya adalah, apakah kita sudah menggunakan momen berkomunikasi tersebut untuk menciptakan peluang membangun hubungan yang positif dan lebih dekat dengan murid kita? Dimasa lalu kita sangat dekat dengan guru kita, lalu bagaimana guru-guru rekan kerja, apakah sama seperti itu.

 

Harapan & Ekspektasi

 

            Sebagai seorang Pengawas, saya berharap dapat mengembangkan budaya positif yang sangat  penting dikembangkan di sekolah. Mutu sekolah dapat dilihat dari budaya positif yang hidup dan dikembangkan warga sekolah. Budaya positif sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan symbol-simbol yang dipraktekkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa dan masyarakat sekitar sekolah.

Budaya positif yang ada disekolah akan membantu pencapaian visi sekolah impian. Guna mewujudkan visi sekolah impian, peran guru sebagai ujung tombak kualitas pendidikan di sekolah sangatlah penting. Guru penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif, dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid, serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.

Sebagai Guru Penggerak , kita harus mulai dari konsep Tergerak,  untuk Bergerak dan harus Menggerakkan dan harus dilaksanakan dalam "membumikan budaya positif" dalam satuan kerja kita, tentu dikat oleh kesepakatan bersama tanpa mengenyampingkan hak-hak anak dalam menerima pembelajaran.

Refleksi:

Kita semua harus bertransformasi mental dalam pendidikan yang merdeka dan mengedepan hak anak-hak anak dengan kontrol yang disepakati sehingga tidak merdeka yang"kebablasan" . Nilai sikap merupakan hal utama di samping perubahan pengetahuan dan keterampilan yang selalu berubah seiring perkembangan kurikulum di Indonesia.

 

Kota Bekasi, 4 Agustus 2021

Dra. Amala Sunarti, M.A

   Pengawas SMP  Dinas Pendidikan Kota Bekasi

 

   Calon Fasilitator Guru Penggerak Angkatan ke 4

 

   Kemendikbud Ristek


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIK/28 JUL.FADHILATULLAILY